I.
JUDUL
“ANTIDIABETES”
II.
TUJUAN
Untuk mebuktikan
efek antidiabet dari ekstrak daun kersen yang diberikan terhadap hewan
percobaan (mencit).
III.
DASAR
TEORI
Diabetesmelitus merupakan suatu penyakit yang terjadi akibat
adanya gangguan pada metabolime glukosa, disebabkan kerusakan proses pengaturan
sekresi insulin dari sel-sel beta. Insulin, yang diahasilkan oleh kelenjar
pankreas sangat penting untuk menjaga keseimbangan kadar glukosa darah. Kadar
glukosa darah normal pada waktu puasa antara 60-120 mg/dl, dan dua jam sesudah
makan dibawah 140 mg/dl. Bila terjadi gangguan pada kerja insulin, baik secara
kualitas maupun kuantitas, keseimbangan tersebut akan terganggu, dan kadar
glukosa darah cenderung naik (hiperglikemia) Diabetes melitus adalah gangguan metabolisme yang
ditandai dengan hiperglikemia dan glukosuria yang berhubungan dengan
abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang diakibatkan
kurangnya insulin yang diproduksi oleh sel β pulau
Langerhans kelenjar
Pankreas baik absolut maupun relatif Kelainan metabolisme yang paling utama ialah
kelainan metabolisme karbohidrat. Oleh karena itu, diagnosis diabetes melitus
selalu berdasarkan kadar glukosa dalam plasma darah
Diabetes melitus
merupakan salah satu jenis penyakit yang ditandai dengan meningkatnya kadar
glukosa darah (hiperglikemia) sebagai akibat dari rendahnya sekresi insulin,
gangguan efek insulin, atau keduanya. Diabetes mellitus bukan merupakan patogen
melainkan secara etiologi adalah kerusakan atau gangguan metabolisme. Gejala
umum diabetes adalah hiperglikemia, poliuria, polidipsia, kekurangan berat
badan, pandangan mata kabur, dan kekurangan insulin sampai pada infeksi. Hiperglikemia
akut dapat
menyebabkan sindrom
hiperosmolar dan
kekurangan insulin dan ketoasidosis. Hiperglikemia
kronik menyebabkan
kerusakan jangka panjang, disfungsi dan kegagalan metabolisme sel, jaringan dan
organ. Komplikasi jangka panjang diabetes adalah macroangiopathy, microangiopathy,neuropathy, katarak, diabetes kaki dan diabetes jantung
Gejala penyakit
diabetes melitus dari satu penderita ke penderita lainnya tidak selalu sama.
Gejala yang disebutkan dibawah ini adalah gejala yang umumnya timbul dengan
tidak mengurangi kemungkinan adanya variasi gejala lain. Ada pula penderita
diabetes melitus yang tidak menunjukkan gejala apa pun sampai pada saat
tertentu (Tjoktoprawiro, 1998).
Pada permulaan, gejala yang ditunjukkan
meliputi “tiga P” yaitu:
1. Polifagia (meningkatnya nafsu makan, banyak makan)
2. Polidipsia (meningkatnya rasa haus, banyak minum)
3. Poliuria (meningkatnya keluaran urin, banyak kencing)
Dalam fase ini
biasanya penderita menunjukkan berat badan yang terus meningkat, bertambah
gemuk, mungkin sampai terjadi kegemukan. Pada keadaan ini jumlah insulin masih
dapat mengimbangi kadar glukosa dalam darah (Kee dan Hayes,1996; Tjokroprawiro,
1998).
Bila keadaan diatas tidak
segera diobati, kemudian akan timbul gejala yang disebabkan oleh kurangnya
insulin, yaitu :
1. Banyak minum
2. Banyak kencing
3. Berat badan menurun dengan cepat (dapat turun 5-10 kg
dalam waktu 2-4 minggu)
4. Mudah lelah
5. Bila tidak lekas diobati, akan timbul rasa mual jika
kadar glukosa darah melebihi 500 mg/dl, bahkan penderita akan jatuh koma (tidak
sadarkan diri) dan disebut koma diabetik.
Koma diabetik adalah koma pada penderita diabetes
melitus akibat kadar glukosa darah terlalu tinggi, biasanya 600 mg/dl atau
lebih. Dalam praktik, gejala dan penurunan berat badan inilah yang paling
sering menjadi keluhan utama penderita untuk berobat ke dokter
Kadang-kadang
penderita diabetes melitus tidak menunjukkan gejala akut (mendadak), tetapi
penderita tersebut baru menunjukkan gejala setelah beberapa bulan atau beberapa
tahun mengidap penyakit diabetes melitus. Gejala ini dikenal dengan gejala kronik
atau menahun.
Gejala kronik yang
sering timbul pada penderita diabetes adalah seperti yang disebut dibawah ini :
a. Kesemutan
b. Kulit terasa
panas, atau seperti tertusuk-tusuk jarum
c. Rasa tebal pada kulit telapak kaki, sehingga kalau
berjalan seperti diatas bantal atau kasur
d. Kram
e. Capek, pegal-pegal
f. Mudah mengantuk
g. Mata kabur, biasanya sering ganti kacamata
h. Gatal di sekitar kemaluan, terutama wanita
i.
Gigi
mudah goyah dan mudah lepas
j.
Kemampuan
seksual menurun, bahkan impoten, dan
Para ibu hamil sering mengalami gangguan atau kematian
janin dalam kandungan, atau melahirkan bayi dengan berat lebih dari 3,5
kg.
Klasifikasi dan Etiologi Diabetes Mellitus
1. Diabetes
Mellitus tergantung Insulin (DMTI, tipe 1)
Diabetes mellitus
tergantung insulin (DMTI atau IDDM) merupakan istilah yang digunakan untuk
kelompok pasien diabetes mellitus yang tidak dapat bertahan hidup tanpa
pengobatan insulin. Penyebab yang paling umum dari IDDM ini adalah terjadinya kerusakan otoimun sel-sel beta
(β) dari pulau-pulau Langerhans .
Kebanyakan penderita
IDDM berusia masih muda, dan usia puncak terjadinya serangan adalah 12 tahun.
Namun demikian, 10% pasien diabetes diatas 65 tahun merupakan pengidap
IDDM
IDDM dapat juga
disebabkan adanya interaksi antara faktor-faktor lingkungan dengan
kecenderungan sebagai pewaris penyakit diabetes mellitus. Hal ini menunjukkan
bahwa IDDM dapat timbul karena adanya hubungan dengan gen-gen pasien dan dapat
pula dipicu oleh faktor lingkungan yang ada, termasuk bermacam-macam virus.
2. Diabetes
mellitus tidak tergantung Insulin (DMTTI ,Tipe II)
Diabetes mellitus
tidak tergantung insulin (DMTTI atau NIDDM) merupakan istilah yang digunakan untuk kelompok
diabetes mellitus yang tidak memerlukan pengobatan dengan insulin supaya dapat
bertahan hidup, meskipun hampir 20% pasien menerima insulin dengan tujuan untuk
membantu mengontrol kadar glukosa darah. NIDDM biasanya ditunjukkan oleh adanya
kombinasi yang beragam dari tahanan insulin dan kekurangan insulin (Tunbridge
and Home, 1991).
IV.
ALAT
dan BAHAN
Hewan Percobaan: Mencit jantan galur wistar
Bahan:
1. Glukosa
2. CMC
3. Glibenklamid
4. Daun
Kersen
Alat:
1. Glukometer
2. Timbangan
mencit
3. Timer
4. Alat
suntik
Rute pemberian: Peroral
V.
CARA
KERJA
Mencit dikelompokkan
menjadi 5 kelompok (kelompok kontrol negatif, kelompok normal, dan 3 kelompok
uji dengan dosis yang berlainan) dipuasakan semalam.
|
Diambil
cuplikan darah untuk kadar glukosa awal.
|
Semua kelompok diberi
sediaan uji secara oral.
|
Setelah 30 menit,
semua kelompok diinduksi glukosa secara oral kecuali kontrol negatif.
|
Dilakukan pengukuran kadar
glukosa pada menit 30 dan 60 dengan glucometer.
|
VI.
DATA
PERCOBAAN
Perhitungan
Dosis
Dosis
-
Mencit I = 3,0/1000 x
18
= 0,05 gr/18gr
-
Mencit II
Volume CMC = 0,5
ml
-
Mencit III
(glibenklamid)
Dosis = 5 mg
Larutan stock =
0,02%
Konversi manusia
ke mencit = 5 mg x 0,0026 = 0,013 mg
Dosis mencit (18
gram) = 0,013 mg x 18 gr/20 gr
= 0,011 mg
Volume = 0,011 mg/ 20 mg x 100 ml
= 0,055 ml
-
Mencit IV
EDK
2 = 0,4 ml/20 g mencit
Dosis
= 0,4 ml/ 170 ml x 200 gr = 0,470 g
= 470 mg
Mencit
18 gr = 0,4 ml x 18 gr/20 gr = 0,36 ml
-
Mencit V (daun kersen)
200 gr/170 ml
EDK 1 = 0,2
ml/20 g mencit
Dosis = 0,2 ml/170ml x 200 gr = 0,235 gr
Mencit (18 gr) =
0,2 ml x 18 gr/20 gr = 0,18 ml
-
Glukosa
Dosis = 3,0
gr/kg BB x 20 gr
= 0,06 g/20g = 60 mg/20 g
= 60 mg/ 18 gr
= 0,05 gr
= 50 mg/18 gr
-
Larutan stock = 50
mg/20.000 mg x 100 ml
= 0,25 ml
Hasil
1. Mencit I
Kadar awal = 113 mg/dl
Kadar akhir = 316 mg/dl
2. Mencit II
Kadar glukosa awal = 72 mg/dl
Kadar akhir = 212 mg/dl
3. Mencit III
Kadar glukosa awal = 105 mg/dl
Kadar akhir = 216 mg/dl
4. Mencit IV (dosis 0,4 ml/20 g mencit)
Kadar glukosa awal = 115 mg/dl
Kadar akhir = 233 mg/dl
5, Mencit V (dosis 0,2 ml/ 20 g mencit)
Kadar glukosa awal = 95 mg/dl
Kadar akhir = 183 mg/dl
KELOMPOK
|
MENCIT
|
TO
|
T1
|
I
|
1
|
77
|
444
|
Normal
|
2
|
125
|
115
|
3
|
113
|
316
|
|
MEAN
|
105
|
291.67
|
|
SD
|
24.98
|
165.84
|
|
II
|
1
|
65
|
90
|
K.negatif
|
2
|
119
|
187
|
3
|
72
|
212
|
|
MEAN
|
85.33
|
163
|
|
SD
|
29.37
|
64.44
|
|
III
|
1
|
54
|
326
|
k.positif
|
2
|
108
|
420
|
3
|
105
|
216
|
|
MEAN
|
89
|
320.67
|
|
SD
|
30.35
|
102.10
|
|
IV
|
1
|
94
|
347
|
EDK 0,2 ml
|
2
|
159
|
248
|
3
|
115
|
233
|
|
MEAN
|
122.67
|
276
|
|
SD
|
33.17
|
61.94
|
|
V
|
1
|
115
|
384
|
EDK O,4 ml
|
2
|
259
|
433
|
3
|
95
|
183
|
|
MEAN
|
156.33
|
333.33
|
|
SD
|
89.47
|
132.48
|
Grafik

% Kenaikan kadar glukosa=
% Kenaikan kadar glukosa
|
64.00
|
47.65
|
72.25
|
55.55
|
53.10
|
VII.
PEMBAHASAN
Tujuan dilakukannya praktikum ini
adalah untuk mebuktikan efek antidiabet dari ekstrak daun kersen yang diberikan
terhadap hewan percobaan (mencit).Percobaan ini digunakan alat glukometer, karena
alat glukometer merupakan alat yang otometik memudahkan dalam memperoleh hasil
glokosa darah, periksaan dengan menggunakan alat ini memerlukan waktu yang relatif
singkat, akurat, waktu tesnya minimal 30 detik. Adapun cara penggunaan dari
alat glukometer tersebut yaitu penyiapan alat dan strip glukotest, masukka
strip glukotest kedalam bagian ujung glukometer, teteskan darah pada tempat
reagen strip glukotest, kemudian dibaca kadar gula yang tertera pada layar
glukometer, dimana mekanisme kerja dari alat glukometer yaitu dalam strip
terdapat enzim glukooksigenase yang mana jika sampel darah mengenai strip maka
akan langsung terbaca oleh glukometer.
Hal pertama yang dilakukan adalah
mengukur kadar glukosa awal pada mencit dan didapat hasil untuk mencit 1
(normal) kadar glukosa awalnya adalah 113 mg/dl, mencit 2 (control negatif) kadar
glukosa awalnya adalah 72 mg/dl, mencit 3 (control positif) kadar glukosa
awalnya adalah 105 mg/dl, mencit 4 (ekstrak daun kersen Dosis 0,4 ml/20 g
mencit) kadar glukosa awalnya adalah 115 mg/dl, mencit 5 (ekstrak daun kersen
Dosis 0,2 ml/20 g mencit) kadar glukosa awalnya adalah 95 mg/dl.
Setelah itu barulah mencit 2
diberikan CMC 0,5 ml secara oral, mencit 3 diberikan glibenclamid 0,055 ml
secara peroral, glibenclamid bekerja dengan cara merangsang sekresi insulin
oleh sel β pulau langerhans di pancreas. Mencit 4 diberikan ekstrak daun kersen
0,36 ml secara oral, mencit 5 diberikan ekstrak daun kersen 0,18 ml secara
oral. Setelah 30 menit, masing-masing mencit diberikan larutan glukosa sebanyak
0,25 ml secara peroral, kecuali mencit 2 (kontrol negatif).
30 menit setelah pemberian larutan
glukosa, mengukur kadar glukosa (T1) pada mencit dan didapat hasil untuk mencit
1(normal) kadar glukosanya adalah 316 mg/dl, mencit 2 (kontrol negatif) kadar
glukosanya adalah 212 mg/dl, mencit 3 (kontrol positif) kadar glukosanya adalah
216 mg/dl, mencit 4 (ekstrak daun kersen Dosis 0,4 ml/20 g mencit) kadar
glukosanya adalah 233 mg/dl, mencit 5 (ekstrak daun kersen Dosis 0,2 ml/20 g
mencit) kadar glukosanya adalah 183 mg/dl.
Percobaan ini dianggap berhasil
karena mencit yang diberikan ekstrak daun kersen mengalami penurunan glukosa
darah. Kadar glukosa darah pada mencit yang diberi obat antidiabet mempunyai
kadar glukosa yang lebih rendah dibandingkan dengan mencit 1 dan 2.
VIII.
KESIMPULAN
1. Glibenclamid
bekerja dengan cara merangsang sekresi insulin oleh sel β pulau langerhans di pancreas.
Obat glibenklamid merupakan obat antidiabetes golongan sulfonylurea yang cocok
digunakan untuk penderita diabetes tipe II.
2. Mencit
yang diberikan ekstrak daun kersen mengalami penurunan glukosa darah. Kadar
glukosa darah pada mencit yang diberi obat antidiabet mempunyai kadar glukosa
yang lebih rendah dibandingkan dengan mencit 1 dan 2.
IX.
DAFTAR PUSTAKA