Sabtu, 10 Maret 2018

Laporan praktikum antidiabetes



I.                   JUDUL
“ANTIDIABETES”
II.                TUJUAN
Untuk mebuktikan efek antidiabet dari ekstrak daun kersen yang diberikan terhadap hewan percobaan (mencit).
III.             DASAR TEORI
Diabetesmelitus merupakan suatu penyakit yang terjadi akibat adanya gangguan pada metabolime glukosa, disebabkan kerusakan proses pengaturan sekresi insulin dari sel-sel beta. Insulin, yang diahasilkan oleh kelenjar pankreas sangat penting untuk menjaga keseimbangan kadar glukosa darah. Kadar glukosa darah normal pada waktu puasa antara 60-120 mg/dl, dan dua jam sesudah makan dibawah 140 mg/dl. Bila terjadi gangguan pada kerja insulin, baik secara kualitas maupun kuantitas, keseimbangan tersebut akan terganggu, dan kadar glukosa darah cenderung naik (hiperglikemia) Diabetes melitus adalah gangguan metabolisme yang ditandai dengan hiperglikemia dan glukosuria yang berhubungan dengan abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang diakibatkan kurangnya insulin yang diproduksi oleh sel β pulau Langerhans kelenjar Pankreas baik absolut maupun relatif Kelainan metabolisme yang paling utama ialah kelainan metabolisme karbohidrat. Oleh karena itu, diagnosis diabetes melitus selalu berdasarkan kadar glukosa dalam plasma darah
Diabetes melitus merupakan salah satu jenis penyakit yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa darah (hiperglikemia) sebagai akibat dari rendahnya sekresi insulin, gangguan efek insulin, atau keduanya. Diabetes mellitus bukan merupakan patogen melainkan secara etiologi adalah kerusakan atau gangguan metabolisme. Gejala umum diabetes adalah hiperglikemia, poliuria, polidipsia, kekurangan berat badan, pandangan mata kabur, dan kekurangan insulin sampai pada infeksi. Hiperglikemia akut dapat menyebabkan sindrom hiperosmolar dan kekurangan insulin dan ketoasidosis. Hiperglikemia kronik  menyebabkan kerusakan jangka panjang, disfungsi dan kegagalan metabolisme sel, jaringan dan organ. Komplikasi jangka panjang diabetes adalah macroangiopathy, microangiopathy,neuropathy, katarak, diabetes kaki dan diabetes jantung
Gejala  penyakit diabetes melitus dari satu penderita ke penderita lainnya tidak selalu sama. Gejala yang disebutkan dibawah ini adalah gejala yang umumnya timbul dengan tidak mengurangi kemungkinan adanya variasi gejala lain. Ada pula penderita diabetes melitus yang tidak menunjukkan gejala apa pun sampai pada saat tertentu (Tjoktoprawiro, 1998).
 Pada permulaan, gejala yang ditunjukkan meliputi “tiga P” yaitu:
1.      Polifagia (meningkatnya nafsu makan, banyak makan)
2.      Polidipsia (meningkatnya rasa haus, banyak minum)
3.      Poliuria (meningkatnya keluaran urin, banyak kencing)
Dalam fase ini biasanya penderita menunjukkan berat badan yang terus meningkat, bertambah gemuk, mungkin sampai terjadi kegemukan. Pada keadaan ini jumlah insulin masih dapat mengimbangi kadar glukosa dalam darah (Kee dan Hayes,1996; Tjokroprawiro, 1998).
 Bila keadaan diatas tidak segera diobati, kemudian akan timbul gejala yang disebabkan oleh kurangnya insulin, yaitu :
1.      Banyak minum
2.      Banyak kencing
3.      Berat badan menurun dengan cepat (dapat turun 5-10 kg dalam waktu 2-4 minggu)
4.      Mudah lelah
5.      Bila tidak lekas diobati, akan timbul rasa mual jika kadar glukosa darah melebihi 500 mg/dl, bahkan penderita akan jatuh koma (tidak sadarkan diri) dan disebut koma diabetik.
Koma diabetik adalah koma pada penderita diabetes melitus akibat kadar glukosa darah terlalu tinggi, biasanya 600 mg/dl atau lebih. Dalam praktik,  gejala dan penurunan berat badan inilah yang paling sering menjadi keluhan utama penderita untuk berobat ke dokter
Kadang-kadang penderita diabetes melitus tidak menunjukkan gejala akut (mendadak), tetapi penderita tersebut baru menunjukkan gejala setelah beberapa bulan atau beberapa tahun mengidap penyakit diabetes melitus. Gejala ini dikenal dengan gejala kronik atau menahun.
Gejala kronik yang sering timbul pada penderita diabetes adalah seperti yang disebut dibawah ini :
a.       Kesemutan
b.       Kulit terasa panas, atau seperti tertusuk-tusuk jarum
c.       Rasa tebal pada kulit telapak kaki, sehingga kalau berjalan seperti diatas bantal atau kasur
d.      Kram
e.       Capek, pegal-pegal
f.        Mudah mengantuk
g.      Mata kabur, biasanya sering ganti kacamata
h.      Gatal di sekitar kemaluan, terutama wanita
i.        Gigi mudah goyah dan mudah lepas
j.        Kemampuan seksual menurun, bahkan impoten, dan
Para ibu hamil sering mengalami gangguan atau kematian janin dalam kandungan, atau melahirkan bayi dengan berat lebih dari 3,5 kg.  
Klasifikasi dan Etiologi Diabetes Mellitus
1.      Diabetes Mellitus tergantung Insulin (DMTI, tipe 1)
Diabetes mellitus tergantung insulin (DMTI atau IDDM) merupakan istilah yang digunakan untuk kelompok pasien diabetes mellitus yang tidak dapat bertahan hidup tanpa pengobatan insulin. Penyebab yang paling umum dari IDDM ini adalah terjadinya kerusakan otoimun sel-sel beta (β) dari pulau-pulau Langerhans .
Kebanyakan penderita IDDM berusia masih muda, dan usia puncak terjadinya serangan adalah 12 tahun. Namun demikian, 10% pasien diabetes diatas 65 tahun merupakan pengidap IDDM 
IDDM dapat juga disebabkan adanya interaksi antara faktor-faktor lingkungan dengan kecenderungan sebagai pewaris penyakit diabetes mellitus. Hal ini menunjukkan bahwa IDDM dapat timbul karena adanya hubungan dengan gen-gen pasien dan dapat pula dipicu oleh faktor lingkungan yang ada, termasuk bermacam-macam virus.


2.      Diabetes mellitus tidak tergantung Insulin (DMTTI ,Tipe II)
Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (DMTTI atau NIDDM) merupakan istilah yang digunakan untuk kelompok diabetes mellitus yang tidak memerlukan pengobatan dengan insulin supaya dapat bertahan hidup, meskipun hampir 20% pasien menerima insulin dengan tujuan untuk membantu mengontrol kadar glukosa darah. NIDDM biasanya ditunjukkan oleh adanya kombinasi yang beragam dari tahanan insulin dan kekurangan insulin (Tunbridge and Home, 1991).

IV.             ALAT dan BAHAN
Hewan Percobaan: Mencit jantan galur wistar
Bahan:
1.      Glukosa
2.      CMC
3.      Glibenklamid
4.      Daun Kersen
Alat:
1.      Glukometer
2.      Timbangan mencit
3.      Timer
4.      Alat suntik
Rute pemberian: Peroral






V.                CARA KERJA
Mencit dikelompokkan menjadi 5 kelompok (kelompok kontrol negatif, kelompok normal, dan 3 kelompok uji dengan dosis yang berlainan) dipuasakan semalam.
Diambil cuplikan darah untuk kadar glukosa awal.
Semua kelompok diberi sediaan uji secara oral.
Setelah 30 menit, semua kelompok diinduksi glukosa secara oral kecuali kontrol negatif.

Dilakukan pengukuran kadar glukosa pada menit 30 dan 60 dengan glucometer.

VI.             DATA PERCOBAAN
Perhitungan Dosis
Dosis
-          Mencit I = 3,0/1000 x 18
               = 0,05 gr/18gr
-          Mencit II
Volume CMC = 0,5 ml
-          Mencit III (glibenklamid)
Dosis              = 5 mg
Larutan stock = 0,02%
Konversi manusia ke mencit   = 5 mg x 0,0026 = 0,013 mg
Dosis mencit (18 gram)     = 0,013 mg x 18 gr/20 gr
                                           = 0,011 mg
Volume                              = 0,011 mg/ 20 mg x 100 ml
                                           = 0,055 ml
-          Mencit IV
EDK 2 = 0,4 ml/20 g mencit
Dosis   = 0,4 ml/ 170 ml x 200 gr = 0,470 g
                                                                  = 470 mg
            Mencit 18 gr = 0,4 ml x 18 gr/20 gr = 0,36 ml
-          Mencit V (daun kersen) 200 gr/170 ml
EDK 1 = 0,2 ml/20 g mencit
Dosis   = 0,2 ml/170ml x 200 gr = 0,235 gr
Mencit (18 gr) = 0,2 ml x 18 gr/20 gr = 0,18 ml
-          Glukosa
Dosis = 3,0 gr/kg BB x 20 gr
          = 0,06 g/20g = 60 mg/20 g
          = 60 mg/ 18 gr
          = 0,05 gr
          = 50 mg/18 gr
-          Larutan stock = 50 mg/20.000 mg x 100 ml
           = 0,25 ml
Hasil
1. Mencit I
Kadar awal = 113 mg/dl
Kadar akhir = 316 mg/dl
2. Mencit II
Kadar glukosa awal = 72 mg/dl
Kadar akhir = 212 mg/dl
3. Mencit III
Kadar glukosa awal = 105 mg/dl
Kadar akhir = 216 mg/dl
4. Mencit IV (dosis 0,4 ml/20 g mencit)
Kadar glukosa awal = 115 mg/dl
Kadar akhir = 233 mg/dl
5, Mencit V (dosis 0,2 ml/ 20 g mencit)
Kadar  glukosa awal = 95 mg/dl
Kadar akhir = 183 mg/dl
KELOMPOK
MENCIT
TO
T1
I
1
77
444
Normal
2
125
115

3
113
316

MEAN
105
291.67

SD
24.98
165.84
II
1
65
90
K.negatif
2
119
187

3
72
212

MEAN
85.33
163

SD
29.37
64.44
III
1
54
326
k.positif
2
108
420

3
105
216

MEAN
89
320.67

SD
30.35
102.10
IV
1
94
347
EDK 0,2 ml
2
159
248

3
115
233

MEAN
122.67
276

SD
33.17
61.94
V
1
115
384
EDK O,4 ml
2
259
433

3
95
183

MEAN
156.33
333.33

SD
89.47
132.48





      Grafik






                   % Kenaikan kadar glukosa= x 100%
% Kenaikan kadar glukosa
64.00
47.65
72.25
55.55
53.10

                       


VII.          PEMBAHASAN
Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah untuk mebuktikan efek antidiabet dari ekstrak daun kersen yang diberikan terhadap hewan percobaan (mencit).Percobaan ini digunakan alat glukometer, karena alat glukometer merupakan alat yang otometik memudahkan dalam memperoleh hasil glokosa darah, periksaan dengan menggunakan alat ini memerlukan waktu yang relatif singkat, akurat, waktu tesnya minimal 30 detik. Adapun cara penggunaan dari alat glukometer tersebut yaitu penyiapan alat dan strip glukotest, masukka strip glukotest kedalam bagian ujung glukometer, teteskan darah pada tempat reagen strip glukotest, kemudian dibaca kadar gula yang tertera pada layar glukometer, dimana mekanisme kerja dari alat glukometer yaitu dalam strip terdapat enzim glukooksigenase yang mana jika sampel darah mengenai strip maka akan langsung terbaca oleh glukometer.
Hal pertama yang dilakukan adalah mengukur kadar glukosa awal pada mencit dan didapat hasil untuk mencit 1 (normal) kadar glukosa awalnya adalah 113 mg/dl, mencit 2 (control negatif) kadar glukosa awalnya adalah 72 mg/dl, mencit 3 (control positif) kadar glukosa awalnya adalah 105 mg/dl, mencit 4 (ekstrak daun kersen Dosis 0,4 ml/20 g mencit) kadar glukosa awalnya adalah 115 mg/dl, mencit 5 (ekstrak daun kersen Dosis 0,2 ml/20 g mencit) kadar glukosa awalnya adalah 95 mg/dl.
Setelah itu barulah mencit 2 diberikan CMC 0,5 ml secara oral, mencit 3 diberikan glibenclamid 0,055 ml secara peroral, glibenclamid bekerja dengan cara merangsang sekresi insulin oleh sel β pulau langerhans di pancreas. Mencit 4 diberikan ekstrak daun kersen 0,36 ml secara oral, mencit 5 diberikan ekstrak daun kersen 0,18 ml secara oral. Setelah 30 menit, masing-masing mencit diberikan larutan glukosa sebanyak 0,25 ml secara peroral, kecuali mencit 2 (kontrol negatif).
30 menit setelah pemberian larutan glukosa, mengukur kadar glukosa (T1) pada mencit dan didapat hasil untuk mencit 1(normal) kadar glukosanya adalah 316 mg/dl, mencit 2 (kontrol negatif) kadar glukosanya adalah 212 mg/dl, mencit 3 (kontrol positif) kadar glukosanya adalah 216 mg/dl, mencit 4 (ekstrak daun kersen Dosis 0,4 ml/20 g mencit) kadar glukosanya adalah 233 mg/dl, mencit 5 (ekstrak daun kersen Dosis 0,2 ml/20 g mencit) kadar glukosanya adalah 183 mg/dl.
Percobaan ini dianggap berhasil karena mencit yang diberikan ekstrak daun kersen mengalami penurunan glukosa darah. Kadar glukosa darah pada mencit yang diberi obat antidiabet mempunyai kadar glukosa yang lebih rendah dibandingkan dengan mencit 1 dan 2.



VIII.       KESIMPULAN
1.      Glibenclamid bekerja dengan cara merangsang sekresi insulin oleh sel β pulau langerhans di pancreas. Obat glibenklamid merupakan obat antidiabetes golongan sulfonylurea yang cocok digunakan untuk penderita diabetes tipe II.
2.      Mencit yang diberikan ekstrak daun kersen mengalami penurunan glukosa darah. Kadar glukosa darah pada mencit yang diberi obat antidiabet mempunyai kadar glukosa yang lebih rendah dibandingkan dengan mencit 1 dan 2. 

IX.             DAFTAR PUSTAKA










Tidak ada komentar:

Posting Komentar